Rabu, 03 Juni 2026

Dari Kalideres, Kita Berangkat dengan Cerita

Tanggal 29 April 2026, pagi itu terasa sedikit berbeda dari biasanya. Bukan karena rutenya yang berubah, tapi karena ada sesuatu yang ikut berangkat bersama kami, sesuatu yang tidak terlihat, tapi terasa.

Bus yang berangkat dari Kalideres tidak hanya membawa pegawai Puskesmas. Ia membawa ekspektasi, rasa penasaran, kelelahan yang belum sempat diproses, dan mungkin tanpa disadari, kebutuhan sederhana untuk berhenti sejenak dari ritme pelayanan yang nyaris tak pernah jeda.

Beberapa wajah terlihat antusias, yang lain lebih tenang, bahkan cenderung diam. Ada yang langsung terlibat dalam obrolan hangat, membahas hal-hal ringan yang lama tidak sempat dibicarakan. Ada juga yang memilih bersandar, menatap keluar jendela, membiarkan jalan panjang menjadi ruang refleksi yang sunyi.

Menariknya, semua dinamika itu bukan gangguan justru bagian dari proses.

Perjalanan menuju Yogyakarta perlahan berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar perpindahan geografis, tapi menjadi ruang transisi psikologis: dari rutinitas yang serba cepat menuju ruang yang lebih reflektif, dari pola kerja yang mekanis menuju pengalaman yang lebih manusiawi.

Di dalam bus itu, tanpa disadari, proses unlearning mulai terjadi.

Obrolan ringan berubah jadi tawa lepas. Tawa lepas berubah jadi kedekatan. Dan di sela-sela itu, ada momen-momen kecil yang sering terlewat dalam keseharian, tatapan yang lebih hangat, sapaan yang lebih tulus, dan kehadiran yang terasa lebih utuh.

Indoor Session: Lebih dari Sekadar Formalitas

Begitu sampai, kegiatan indoor langsung membuka rangkaian acara. Diawali dengan sambutan dari Kepala Puskesmas, yang bukan sekadar pidato formal, tapi lebih seperti pengingat: kenapa kita memilih profesi ini, dan untuk siapa kita bekerja.

Materi yang disampaikan kemudian menjadi penguat, memberikan kerangka berpikir, tapi juga membuka ruang refleksi. Tidak sekadar “apa yang harus dilakukan”, tapi “bagaimana melakukannya dengan hati”. “Setelah kegiatan ini, mari kita lebih solid untuk menjadi pelayan masyarakat yang bisa melayani dengan hati” Ujar Mami, sapaan hangat untuk ibu kapus tercinta, dr. Lusi Widyastuti, MKM.


Kegiatan Outdoor, ada yang ingin bermain dengan cipratan air (Rafting), dan ada yang ingin berkeliling dengan mobil semacam Jeep Kecil yang muat antara 4-5 orang (Tour VW).


Outdoor: Ketika Pembelajaran Menjadi Pengalaman

Masuk ke kegiatan outdoor, energi berubah total.

Rafting di Sungai Elo: Momen Tak Terduga yang Jadi Paling Berkesan

Rafting di Sungai Elo awalnya sudah terdengar seru. Tapi yang terjadi di lapangan? Lebih dari itu.

Air sungai yang tadinya tenang mulai berubah karakter. Debit meningkat, arus menjadi lebih kuat, lebih cepat, lebih “liar”. Perahu karet yang kami naiki tidak lagi sekedar mengapung santai ia mulai menari mengikuti arus, kadang melaju cepat, kadang menghantam riak, lalu kembali stabil hanya untuk beberapa detik sebelum tantangan berikutnya datang.



Dan di atas perahu itu, sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar “rafting” mulai terjadi.

Teriakan pecah, bukan hanya karena kaget, tapi karena adrenalin yang melonjak tanpa bisa ditahan. Tawa muncul di sela-sela ketegangan. Air memercik ke segala arah, membasahi semua orang tanpa diskriminasi.

Seragam basah. Rambut berantakan. Wajah penuh air.

Dan anehnya… tidak ada yang peduli.

Karena di momen itu, semua atribut yang biasanya melekat, jabatan, peran, bahkan citra diri perlahan luruh begitu saja.

Yang tersisa hanya satu hal: kita adalah satu tim yang harus bergerak bersama.

Setiap aba-aba dari pemandu menjadi krusial.
Setiap kayuhan harus selaras.
Setiap orang harus hadir sepenuhnya tidak setengah-setengah.

Tidak ada ruang untuk ego.
Tidak ada waktu untuk ragu.

Kalau satu orang terlambat merespons, ritme terganggu.
Kalau satu orang panik, energi tim bisa goyah.

Dan tanpa perlu dijelaskan, semua orang mulai memahami satu hal penting: Kita tidak sedang mengendalikan sungai, kita sedang belajar menyesuaikan diri dengannya.

Di titik ini, rafting tidak lagi terasa seperti aktivitas rekreasi. Ia berubah menjadi metafora yang sangat nyata.

Karena bukankah ini juga yang terjadi dalam pelayanan kesehatan?

  • Kita sering bekerja dalam kondisi yang tidak ideal

  • Kita menghadapi situasi yang berubah cepat, bahkan tanpa peringatan

  • Kita dituntut untuk tetap tenang, responsif, dan terkoordinasi

Dan seperti di atas perahu itu, keberhasilan tidak ditentukan oleh siapa yang paling hebat tapi oleh seberapa solid tim bisa bergerak bersama.

Yang paling menarik, justru hujan yang awalnya terlihat sebagai “gangguan” menjadi faktor yang membuat pengalaman ini jauh lebih dalam.

Tanpa hujan, mungkin arusnya biasa saja.
Tanpa hujan, mungkin tantangannya terasa standar.
Tanpa hujan, mungkin kenangannya tidak sekuat ini.

Hujan memaksa semua orang keluar dari zona nyaman.
Hujan membuat semua menjadi lebih nyata, lebih intens, lebih jujur.

Dan di tengah derasnya arus, dinginnya air, dan riuhnya suara, ada satu hal yang justru terasa hangat dan jelas: Kebersamaan yang tidak dibuat-buat.

Momen ketika semua orang saling menjaga tanpa diminta.

Momen ketika tawa muncul bahkan di tengah ketegangan.
Momen ketika rasa percaya tidak perlu dijelaskan, karena langsung dirasakan.

Mungkin, disitulah esensi sebenarnya dari From Knowledge to Kindness menemukan bentuknya.

Perjalanan dari Kalideres ke Yogyakarta mungkin secara fisik telah mencapai garis akhirnya. Bus berhenti, barang diturunkan, rutinitas perlahan kembali menunggu untuk dijalani seperti biasa.

Namun ada satu perjalanan lain yang justru baru saja dimulai, lebih sunyi, lebih personal, dan jauh lebih menentukan arah ke depan.

Perjalanan dari tahu menuju peduli.

Karena pada akhirnya, mengetahui tidak selalu berarti memahami.
Memahami pun belum tentu berujung pada kepedulian.

Di antara ketiganya, ada ruang yang sering kali kosong, tapi justru paling krusial dalam dunia pelayanan kesehatan.

Ruang itu diisi oleh pengalaman.
Oleh pertemuan.
Oleh momen-momen yang tidak bisa diajarkan, tapi hanya bisa dirasakan.

Perjalanan ini, dengan segala tawa, refleksi, hujan, dan kebersamaannya, perlahan mengisi ruang itu.

Ia menggeser sesuatu yang sebelumnya terasa biasa menjadi lebih bermakna.
Ia membuat hal-hal kecil yang dulu mungkin terlewat, kini terasa penting.
Ia mengubah interaksi yang tadinya prosedural menjadi lebih manusiawi.

Dan mungkin, jika semua ini dirangkum dalam satu pemahaman sederhana bukan sekadar kesimpulan, tapi semacam pengingat yang akan terus terbawa dalam praktik sehari-hari.

Ilmu memang membuat kita mampu menjalankan tugas dengan benar.
Ia memberi kita arah, struktur, dan kepercayaan diri dalam bertindak.




Namun...

kebaikanlah yang membuat setiap tindakan itu punya arti.

Kebaikan yang membuat pasien merasa dilihat, bukan sekadar diperiksa.
Kebaikan yang membuat komunikasi terasa hangat, bukan sekadar informatif.
Kebaikan yang mengubah pelayanan dari sekadar “dilakukan” menjadi benar-benar “dirasakan”.

Karena di titik tertentu, orang mungkin tidak selalu ingat apa yang kita katakan.
Bahkan tidak selalu ingat apa yang kita lakukan secara detail.

Tapi mereka hampir selalu ingat “bagaimana kita membuat mereka merasa”.

Dan disitulah, perjalanan ini menemukan maknanya yang paling dalam.

Bukan tentang sejauh apa kita pergi.
Tapi tentang sejauh apa kita berubah.









Senin, 02 Agustus 2021

Sepucuk Surat untuk ipar

   

Teruntuk Hera, Sulaiman.

Assalamuaikum war...wab...

Berbasa basi boleh lah yah, karena sejatinya kita sama-sama pernah menjadi perantau di Kota yang sama, Jakarta. Kota yang penuh dengan hiruk pikuk masyarakat, orang bilang sih Kota Metropolitan.

Hallo, Bang Sule (Sapaan Akrab), gimana kabar lu bang, setelah lama meninggalakan kota? tentunya harus sehat dan tetap produktif donk. Eh, sekarang denger kabar ingin melamar adik gua yah? Wahh.. suatu kabar gembira donk tentunya. Selain sudah kenal dan akrab, tentunya kita bisa menjadi keluarga. Makasih banyak loh bang. Oh iya, gua mau cerita sedikit nih tantang Ari Siwe Meci (1) gua ke lu bang.

Sedikit tidak mungkin lu sudah paham seluk beluk nya.

Dulu, Gua dan Feton (aslinya Faturahmah) tumbuh dan dibesarkan secara sederhana oleh orangtua yang sangat hebat, orang tua yang sangat luar biasa, penuh dengan kesederhaan, kasih sayang dan disiplin. Ngomongin disiplin, terutama disiplin dalam sholat. Mama adalah orang yang paling keras. Umur gua waktu itu sekitar 8 atau 9 tahun, dan Feton 3 tahun lebih muda dari gua. Sepulang bermain saat adzan Magrib, langsung di sodorkan pertanyaan "Ma waur sambea ashar dua mu ede?"(2) dengan muka polos kamipun menjawab serentak "Belum Mah...". Mamapun menyuruh Feton ambil sapu di pojokan. Alhasil, empat kali cambukan mendarat dengan sempurna di telapak kaki kami. Wow, luar biasa kan? tapi begitulah cara didikan beliau untuk anak-anaknya, agar tidak melalikan kewajiban. Jika tidak solat, jumlah cambukan yang kami terima sesuai dengan jumlah rakaat yang di lalaikan pada saat itu. Dan alhmadulillah, dengan didikan seperti itu, In Sha Allah akan selalu membekas pada anak-anak nya, terutama gua dan Feton.

Hari berlalu, minggu terlewatkan, bulan terlampaui, hingga tahun berganti

Bapak adalah sosok bijaksana dalam memberikan kebebasan kami untuk memilih tingkat pendidikan, gua ke SMP, ia di MTs, tapi saat SMA di tempat yang sama. Namun untuk pendidikan lanjutan Tinggi, kamipun di bebaskan untuk memilih. gua di Jakarta (makanya kita ketemu di Kota ini bang, hehe) dan Feton di Makasar. Ia lulus jalur beasiswa "Pendidikan Bahasa Arab" di Universitas Islam Negeri Alauddin Makasar (UIN Alauddin).

Setelah lulus kuliah, gua balik ke Bima di bulan Januari 2014 kalo gak salah. Pada saat yang sama, terjadi kericuhan mahasiswa Bima yang menyerang pemuda Makasar, yang menyebabkan banyak mahasiswa Bima yang kuliah di sana menjadi panik, syok, dan tentunya kena mental seperti anak zaman now bilang. Hingga menyebabkan kekhawatiran keluarga meningkat.. Tak terkecuali Feton, berat badannya yang semula 63 kg menjadi 54 kg, sangat terlihat sangat kurus (katanya).

Masih di tahun yang sama, kurang lebih bulan April, ia mengalami tragedi yang luarbiasa, tragedi yang hampir merenggut nyawanya. Perampokan dan pembegalan yang disertai dengan pembacokan, alhasil punggung tangan sebekah kanan menjadi korban keganasan peristiwa saat itu, karena menangkis pisau / belati yang ingin menyerang bagian muka. Sehingga tulang Carpals dan tulang Ulna pun ikut patah dalam (Hasil Rontgen). Luka sayatan pun tergambar pada punggung tangannya, yang menyebabkan banyak jahitan dan cedera untuk beberapa saat lamanya.

Trauma dari tragedi tersebut mengharuskan gua terbang ke Makasar. Sesampai di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, gua langsung ke Rumah Sakit. Dalam perjalanan, tak hentinya meminta pertolongan Allah agar ia dalam kesadaran penuh. Sesampai disana, disambut dengan kepanikan dan raut wajah sedih serta penuh iba dari para sahabatnya. Langsung diantar menuju kamar. Dengan suara parau dan penuh hati-hati, gua bertanya

"Bune ja haba mu ari gaga ?" (3)

ia hanya tersenyum sembari menenangkan hati gua yang khawatir, lalu berkata

"waur bungkus kani perban rima mada sa'e, hehe" (4). Namun, ada butiran bening yang keluar dari sudut bola matanya. Ya benar, baru saja dia menangis. terlihat sedikit bengkak kelopak matanya, dan memar biru di beberapa pipi dan dahi.

Gua mendekat dan duduk di samping bed tempat ia berbaring, lalu menyeka air matanya dengan kata-kata motivasi, kata-kata kelembutan, dan kalimat bijak sebagai seorang abang. Karena gua tahu, kejadian brutal itu sangat menyakitkan dan membekas. Menenangkan nya dengan sedikit humor dan candaan adalah cara terbaik untuk menghiburnya.

Merengek minta pulang, menjerit akibat trauma, meraung karena kesakitan, menanggung semua rasa sakit dalam satu waktu. Namun, semuanya ia bungkus rapi dengan senyum tipis, agar terlihat baik baik saja. Gadis manja yang ingin terlihat kuat, gadis lemah yang ingin menunjukkan bahwa ia mampu melewati nya dengan senyuman. Gadis dengan ego tinggi yang berwatak keras ingin tetap tegar. Gadis yang biasanya melakukan apapun sendiri, kita terlihat lemas dan tak berdaya, jangan kan memasak (karena ia pandai memasak), makan pun gua yang suapin saat itu. Tetap saja kau terlihat seperti gadis kecil yang lugu dan polos wahai adikku. 

Gak usah sok strong deh depan abang.

Setelah tiga hari di rawat di Rumah Sakit, akhirnya bisa pulang ke Kost-an dengan syarat tetap rutin kontrol tiap minggu. Tiap kali jadwal kontrol, merengek minta di belikan ini itu bla bla. Hingga 3 minggu gua berada di Makasar untuk menenangkan nya.

Terlalu kejam pelaku pembacokan, hingga merampas keceriaan yang ia miliki.Terlalu sadis pelaku kekerasan pada perempuan hingga menimbulkan trauma yang mendalam. Gua berdoa, semoga pelakunya tidak mempunyai adik perempuan.

Gua hanya sedikit mengingat moment indah bersama Calon istri lu bang.

Harapan dan terimakasih gua sederhana aja bang ke lu, yang diwakilkan dengan:

Semoga menjadi imam yang bisa membimbing dan mengarahkan ia kepada kebaikan dunia dan akhirat.

Semoga menjadi suami yang selalu bertanggung jawab atas segala kebutuhan dan kehidupannya.

Semoga menjadi suami yang bijaksana dalam berkeputusan.


Terima kasih sudah menyayanginya sejauh ini.

Terima kasih sudah mencintainya dengan berbagai kekurangannya.

Terima kasih sudah bertanggung jawab atas segala ketidaksempurnaannya dengan penuh kepedulian.


Jaga ia dengan baik, sebaik kami menjaganya waktu kecil.

Sayangi ia dengan cinta, sesayang kami waktu kecil.

Lindungi ia dengan kekuatan cinta, seperti kami melindunginya waktu kecil.


Jangan berkata kasar yang melampaui, karena hati nya rapuh.

Jangan membuat nya bersedih, karena hati nya mudah terluka.

Jangan pernah bermain tangan, karena raga nya lemah.


Salam Jauh, 2 Agustus 2021


Bang Tole

_________________________________________________


     










(1). Ari Siwe Meci : Adik perempuan yang manja

(2). Ma waur sambea ashar dua mu ede? : Kalian berdua sudah solat ashar?

(3). Bune ja haba mu ari gaga ? : Bagaimana kabarnya dek?

(4). Waur bungkus kani perban rima mada sa'e, hehe : Sudah di perban tangan ku bang, hehe

Selasa, 14 Juli 2020

Surat Untuk Covid19

Dear covid,

Kamu tahu tidak, apa yang paling membahayakan dari dirimu?

Bukan hanya tentang bagaimana kamu menyerang paru-paru manusia, atau bagaimana tubuh perlahan kehilangan kemampuan untuk bernapas. Yang paling membahayakan darimu adalah caramu memperbanyak diri. Kamu berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain, mencari “rumah” baru untuk disinggahi, meninggalkan ketakutan, kehilangan, bahkan kematian.

Kamu datang tanpa permisi, lalu mengubah banyak hal dalam waktu singkat.

Dear Covid,

Kamu tahu tidak, apa yang dilakukan tenaga kesehatan sejak pertama kali namamu diumumkan hadir di Indonesia?

Kami sibuk. Sangat sibuk.

Rumah sakit penuh. Ruang IGD tidak pernah benar-benar tenang. Ambulans datang silih berganti. APD menjadi pakaian sehari-hari. Wajah-wajah lelah tersembunyi di balik masker dan face shield. Banyak dari kami pulang hanya untuk tidur beberapa jam, lalu kembali lagi menghadapi pasien berikutnya.

Kami belajar bertahan di tengah ketidakpastian.

Saat masyarakat diminta menjaga jarak, justru kami harus berdiri paling dekat denganmu. Saat banyak orang bisa bekerja dari rumah, kami tetap berjalan menuju ruang isolasi. Ada tenaga kesehatan yang harus menahan rindu pada keluarga karena takut membawa virus ke rumah. Ada yang memilih tinggal terpisah dari anak dan orang tuanya selama berbulan-bulan.

Dan ironisnya, di saat kami berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa, masih ada yang menganggapmu tidak nyata.

Pandemi bukan hanya tentang angka kasus atau grafik kematian yang ditampilkan setiap hari di televisi. Pandemi adalah tentang ibu yang kehilangan anaknya tanpa sempat berpamitan. Tentang pasien yang mengembuskan napas terakhir tanpa ditemani keluarga. Tentang tenaga kesehatan yang menangis diam-diam setelah gagal mempertahankan pasien di meja perawatan.

Covid mengajarkan banyak hal pada kami.

Bahwa kesehatan adalah sesuatu yang sering dianggap biasa sampai akhirnya hilang. Bahwa sistem kesehatan bisa kewalahan. Bahwa manusia ternyata sangat rapuh. Namun di sisi lain, pandemi juga menunjukkan bahwa empati, solidaritas, dan kemanusiaan masih ada.

Kami tidak pernah benar-benar menjadi pahlawan seperti yang banyak orang katakan. Kami hanya manusia biasa yang memilih tetap berdiri di tengah keadaan yang tidak baik-baik saja.