Kamu tahu tidak, apa yang paling membahayakan dari dirimu?
Bukan hanya tentang bagaimana kamu menyerang paru-paru manusia, atau bagaimana tubuh perlahan kehilangan kemampuan untuk bernapas. Yang paling membahayakan darimu adalah caramu memperbanyak diri. Kamu berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain, mencari “rumah” baru untuk disinggahi, meninggalkan ketakutan, kehilangan, bahkan kematian.
Kamu datang tanpa permisi, lalu mengubah banyak hal dalam waktu singkat.
Dear Covid,
Kamu tahu tidak, apa yang dilakukan tenaga kesehatan sejak pertama kali namamu diumumkan hadir di Indonesia?
Kami sibuk. Sangat sibuk.
Rumah sakit penuh. Ruang IGD tidak pernah benar-benar tenang. Ambulans datang silih berganti. APD menjadi pakaian sehari-hari. Wajah-wajah lelah tersembunyi di balik masker dan face shield. Banyak dari kami pulang hanya untuk tidur beberapa jam, lalu kembali lagi menghadapi pasien berikutnya.
Kami belajar bertahan di tengah ketidakpastian.
Saat masyarakat diminta menjaga jarak, justru kami harus berdiri paling dekat denganmu. Saat banyak orang bisa bekerja dari rumah, kami tetap berjalan menuju ruang isolasi. Ada tenaga kesehatan yang harus menahan rindu pada keluarga karena takut membawa virus ke rumah. Ada yang memilih tinggal terpisah dari anak dan orang tuanya selama berbulan-bulan.
Dan ironisnya, di saat kami berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa, masih ada yang menganggapmu tidak nyata.
Pandemi bukan hanya tentang angka kasus atau grafik kematian yang ditampilkan setiap hari di televisi. Pandemi adalah tentang ibu yang kehilangan anaknya tanpa sempat berpamitan. Tentang pasien yang mengembuskan napas terakhir tanpa ditemani keluarga. Tentang tenaga kesehatan yang menangis diam-diam setelah gagal mempertahankan pasien di meja perawatan.
Covid mengajarkan banyak hal pada kami.
Bahwa kesehatan adalah sesuatu yang sering dianggap biasa sampai akhirnya hilang. Bahwa sistem kesehatan bisa kewalahan. Bahwa manusia ternyata sangat rapuh. Namun di sisi lain, pandemi juga menunjukkan bahwa empati, solidaritas, dan kemanusiaan masih ada.
Kami tidak pernah benar-benar menjadi pahlawan seperti yang banyak orang katakan. Kami hanya manusia biasa yang memilih tetap berdiri di tengah keadaan yang tidak baik-baik saja.